Selasa, 20 Juli 2010

Bunyi alarm hp April membuatnya terjaga dari tidurnya. Dimatikannya alarm. Setelah menghitung sampai sepuluh, ia segera bangun dan berdoa mengucap syukur buat pagi yang indah dan masih dibolehkan kesempatan untuk menikmatinya. Dirapikannya ranjangnya lalu beranjak membuka gorden lalu menatap kabut pagi di luar sana. Masih sepi…. Terdengar hanyalah kicauan burung. Embun masih betah bertengger di dedaunan. Matahari masih malu-malu pula menampakkan dirinya. Terdengar bunyi berderit dari atas. Rupanya Ari sudah bangun. April memang sekamar dengan Ari, namun tidurnya terpisah di ranjang susun itu. Ari beranjak keluar. April tetap dengan aktifitas rutinnya di pagi hari itu.
Sebentar saja sudah terdengar keributan kecil di rumah itu. Mom biasanya mendengar musik yang mengalun dari radio dan menemaninya menyiapkan sarapan setelah itu bersiap-siap berangkat kerja. Priyan, Juan dan Ari pastinya sekarang lagi rebutan kamar mandi. Biasanya Priyan yang mengalah untuk terbelakang yang mengakibatkan dirinya terlambat ke sekolah. Pintu terbuka dan Ari memasuki kamar masih dengan handuk melilit tubuhnya sambil menenteng pakaian seragam dan sepatunya. Ia segera bertukar pakaian. Setelah selesai semuanya, termasuk berdandan, ia keluar kamar. Tak lama pintu terbuka lagi. Mom masuk ke kamar. Biasanya mom berdandan di kamar ini juga. Alasannya di kamar itu penerangan alamnya lebih bagus. April menatap mom yang tengah mengoles berbagai macam make-up ke wajahnya. Heran.. Mom memiliki berbagai macam make-up hanya untuk wajah. Mulai dari bedak,lipstik,pembersih,penyegar dan entah apalagi namanya. April sendiri nggak tahu sebab nggak pernah memakainya.
“kenapa lagi ?” tanya mom sambil menyisir rambutnya.
April cuma menggeleng lalu pura-pura membaca majalah yang ada di samping ranjangnya.
“berangkat dulu..” ucap Mom sambil beranjak dari depan cermin dan keluar kamar.
April menatap kepergian Mom lalu beralih ke alat-alat make-up milik Mom yang berjajar rapi di laci almarinya. Andaikan ada orang baru masuk kamar ini pastilah dikira semua itu milik April dan Ari. Tetapi berhubung Ari masih kecil eh, maksudnya masih SMP, pastilah kecurigaan lebih tertuju pada April. Padahal kalau mau jujur, peralatan make-up April hanya deodorant dan lotion. Itupun kalau dikategorikan make-up. April beranjak keluar kamar. Ia disambut pamitan dari Juan dan Ari. Tinggal Priyan yang ogah-ogahan sarapan sambil memakai sepatu di ruang makan.
“eh, Pril..” seru Priyan begitu dilihatnya April muncul di ruang makan,”pinjam kamus BING, dong…” lanjutnya.
“ambil aja di meja kamarku.” Sahut April lalu duduk di kursi makan sambil membuka tudung saji.
Priyan segera melesat ke kamar April. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan menenteng kamus ditangan kirinya dan memasukkan dalam tas.
“aku berangkat dulu, ya…” pamit Priyan disambut anggukan April.
Sepi sudah rumah ini, batin April. Semuanya sudah berangkat. Dad sedang tugas ke luar kota. Seminggu sekali baru balik, kalau nggak sebulan dua kali. April baru saja bangun dari kursinya ketika didengarnya suara Priyan memanggilnya. April memasang telinganya baik-baik. Takut salah dengar. Bukannya tadi Priyan sudah berangkat?!?

Tidak ada komentar: